Modul 4 (Aplikasi)
MODUL 4
KONTROL AIR KOLAM IKAN LELE
1. Pendahuluan[Kembali]
Budidaya ikan lele merupakan salah satu kegiatan perikanan yang banyak dilakukan masyarakat karena memiliki nilai ekonomi tinggi dan teknik pemeliharaan yang relatif mudah. Namun, pengelolaan kolam ikan lele membutuhkan perhatian khusus, terutama dalam menjaga kestabilan volume air. Perubahan cuaca, khususnya curah hujan yang tinggi, seringkali menyebabkan air kolam meluap dan mengakibatkan ikan keluar dari kolam atau kualitas air menurun. Kondisi ini dapat menurunkan tingkat kelangsungan hidup ikan dan menyebabkan kerugian bagi pembudidaya.
Perkembangan teknologi otomasi memberikan peluang besar dalam mempermudah pengelolaan kolam ikan. Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah sistem kontrol air berbasis sensor hujan. Sensor hujan berfungsi mendeteksi keberadaan dan intensitas hujan secara langsung, sehingga sistem dapat mengatur pompa air dan katup pembuangan secara otomatis. Dengan demikian, volume air kolam dapat tetap stabil meskipun terjadi perubahan cuaca.
2. Tujuan[Kembali]
- Untuk mengetahui bagaimana merancang sistem kontrol otomatis yang dapat mengatur proses pengisian air kolam ikan lele menggunakan sensor air level
- Untuk mengetahui bagaimana sistem dapat mendeteksi kondisi air sudah penuh dan memberikan indikasi melalui LED hijau serta mematikan motor pompa secara otomatis melalui water level sensor
- Untuk mengetahui bagaimana menerapkan sensor hujan untuk mendeteksi kondisi air melimpah akibat curah hujan tinggi sehingga dapat memberikan peringatan melalui buzzer
3. Alat dan Bahan [Kembali]
1. Breadboard
2. Kotak Plastik
3. Power Supply 12V
4. Jumper
5. Adapter 5V
B. Bahan
- Adopts high quality of RF-04 double sided material.
- Area: 5cm x 4cm nickel plate on side,
- Anti-oxidation, anti-conductivity, with long use time;
- Comparator output signal clean waveform is good, driving ability, over 15mA;
- Potentiometer adjust the sensitivity;
- Working voltage 5V;
- Output format: Digital switching output (0 and 1) and analog voltage output AO;
- With bolt holes for easy installation;
- Small board PCB size: 3.2cm x 1.4cm;
- Uses a wide voltage LM393 comparator
| Pin | Nama Pin | Keterangan |
| Pin 1 | Offset Null 1 | Digunakan, bersama dengan Pin 5, untuk mengatur tegangan offset output ke nol (jika diperlukan). |
| Pin 2 | Input Inverting | Pin input di mana sinyal output akan berlawanan fasa dengan sinyal input. |
| Pin 3 | Input Non-Inverting | Pin input di mana sinyal output akan sefasa dengan sinyal input. |
| Pin 4 | (Negatif Suplai) | Pin catu daya negatif IC. Perlu dihubungkan ke terminal negatif dari catu daya atau ground (0V) jika menggunakan catu daya tunggal. |
| Pin 5 | Offset Null 2 | Digunakan, bersama dengan Pin 1, untuk menyesuaikan tegangan offset output. |
| Pin 6 | Output | Pin keluaran utama dari penguat operasional. |
| Pin 7 | (Positif Suplai) | Pin catu daya positif IC. Perlu dihubungkan ke terminal positif dari tegangan suplai. |
| Pin 8 | N.C. (No Connection) | Pin ini tidak terhubung secara internal dan biasanya dibiarkan terbuka. |
Cara kerja LM393 :
- Perbandingan Input: IC ini memproses perbedaan tegangan antara pin input Non-Inverting (Pin 3) dan pin input Inverting (Pin 2).
- Output Tinggi (Output HIGH): Ketika tegangan pada input Non-Inverting lebih tinggi daripada tegangan pada input Inverting, output akan bergerak menuju tegangan suplai positif.
- Output Rendah (Output LOW): Ketika tegangan pada input Inverting lebih tinggi daripada tegangan pada input Non-Inverting, output akan bergerak menuju tegangan suplai negatif atau ground.
- Umpan Balik (Feedback): LM741 hampir selalu digunakan dengan umpan balik eksternal (seperti resistor yang menghubungkan Output ke Input Inverting).
- Penguatan Terkontrol: Umpan balik ini mengurangi penguatan dari nilai loop terbuka yang sangat tinggi menjadi nilai yang dapat dikendalikan dan ditentukan oleh rasio komponen eksternal (resistor), memungkinkan IC beroperasi sebagai penguat linier.
| Pin | Nama Pin | Keterangan |
| Pin 1 | Output 1 | Pin keluaran untuk Op-Amp pertama. |
| Pin 2 | Input Inverting | Pin input di mana sinyal output akan berlawanan fasa dengan sinyal input (untuk Op-Amp 1). |
| Pin 3 | Input Non-Inverting | Pin input di mana sinyal output akan sefasa dengan sinyal input (untuk Op-Amp 1). |
| Pin 4 | (Negatif Suplai) | Pin catu daya negatif IC. Perlu dihubungkan ke terminal negatif dari catu daya atau ground. |
| Pin 5 | Input Non-Inverting | Pin input non-inverting untuk Op-Amp kedua. |
| Pin 6 | Input Inverting | Pin input inverting untuk Op-Amp kedua. |
| Pin 7 | Output 2 | Pin keluaran untuk Op-Amp kedua. |
| Pin 8 | (Positif Suplai) | Pin catu daya positif IC. Perlu dihubungkan ke terminal positif dari tegangan suplai. |
Cara kerja TL082 :
- Impedansi Input Tinggi: Berbeda dengan Op-Amp bipolar (seperti LM741), tahap input TL082 menggunakan JFET. Hal ini menyebabkan resistansi input menjadi sangat besar, sehingga hanya menarik arus yang sangat kecil dari sumber tegangan input.
Perbandingan Diferensial: Setiap Op-Amp memproses perbedaan tegangan antara input Non-Inverting dan Inverting-nya.
Penguatan: Sinyal input diferensial diperkuat oleh penguatan loop terbuka yang sangat tinggi
- Umpan Balik (Feedback): Seperti Op-Amp lainnya, TL082 membutuhkan umpan balik eksternal (resistor, kapasitor) untuk menentukan penguatan yang stabil dan mengubahnya menjadi konfigurasi fungsional (misalnya, voltage follower atau active filter).
- Keluaran Output: Tegangan output dihasilkan pada Pin 1 dengan nilai yang bergantung pada umpan balik eksternal dan dibatasi oleh tegangan suplai.
Transistor D882 , juga dikenal sebagai 2SD882, adalah transistor sambungan bipolar (BJT) NPN berdaya sedang yang umum digunakan dalam aplikasi amplifikasi dan switching untuk keperluan umum. Transistor ini dirancang dengan teknologi planar, menawarkan kinerja yang andal dan kemampuan penanganan arus yang moderat. Transistor ini memiliki tiga lapisan material semikonduktor dengan tiga terminal—emitor, basis, dan kolektor. Transistor ini memberikan amplifikasi arus yang efisien dengan rentang penguatan antara 60 dan 400, sehingga cocok untuk sirkuit berdaya rendah. Selain itu, D882 dapat dipasang pada heatsink melalui lubang sekrup pada paket SOT-32-nya, sehingga meningkatkan pembuangan panasnya selama operasi.
Spesifikasi:
Karakteristik:
Potensiometer (POT) adalah salah satu jenis Resistor yang Nilai Resistansinya dapat diatur sesuai dengan kebutuhan Rangkaian Elektronika ataupun kebutuhan pemakainya. Potensiometer merupakan Keluarga Resistor yang tergolong dalam Kategori Variable Resistor. Secara struktur, Potensiometer terdiri dari 3 kaki Terminal dengan sebuah shaft atau tuas yang berfungsi sebagai pengaturnya.
Sebuah Potensiometer (POT) terdiri dari sebuah elemen resistif yang membentuk jalur (track) dengan terminal di kedua ujungnya. Sedangkan terminal lainnya (biasanya berada di tengah) adalah Penyapu (Wiper) yang dipergunakan untuk menentukan pergerakan pada jalur elemen resistif (Resistive). Pergerakan Penyapu (Wiper) pada Jalur Elemen Resistif inilah yang mengatur naik-turunnya Nilai Resistansi sebuah Potensiometer. Elemen Resistif pada Potensiometer umumnya terbuat dari bahan campuran Metal (logam) dan Keramik ataupun Bahan Karbon (Carbon).
Resistor adalah komponen Elektronika Pasif yang memiliki nilai resistansi atau hambatan tertentu yang berfungsi untuk membatasi dan mengatur arus listrik dalam suatu rangkaian Elektronika (V=I R).
Jenis Resistor yang digunakan disini adalah Fixed Resistor, dimana merupakan resistor dengan nilai tetap terdiri dari film tipis karbon yang diendapkan subtrat isolator kemudian dipotong berbentuk spiral. Keuntungan jenis fixed resistor ini dapat menghasilkan resistor dengan toleransi yang lebih rendah.
Cara menghitung nilai resistor:
Dioda adalah komponen elektronik dua terminal yang berfungsi untuk mengalirkan arus listrik hanya dalam satu arah, yaitu dari anoda ke katoda. Dioda terbuat dari bahan semikonduktor, biasanya silikon atau germanium, yang dibentuk dengan persambungan antara tipe P dan tipe N (P-N junction).
Fungsi utama dioda adalah sebagai penyearah arus (rectifier) dalam rangkaian listrik, mengubah arus bolak-balik (AC) menjadi arus searah (DC). Selain itu, dioda juga digunakan dalam berbagai aplikasi seperti penstabil tegangan, pelindung polaritas terbalik, detektor sinyal, serta rangkaian logika elektronik.
Prinsip Kerja:- Bias Maju (Forward Bias), Ketika terminal positif sumber tegangan dihubungkan ke anoda dan terminal negatif ke katoda, elektron dari sisi N bergerak menuju sisi P, dan arus listrik dapat mengalir melalui dioda.
- Bias Mundur (Reverse Bias), Jika polaritas sumber tegangan dibalik (positif ke katoda dan negatif ke anoda), elektron tertarik menjauh dari daerah sambungan, sehingga arus hampir tidak mengalir.
- Daerah Deplesi, Pada sambungan P-N terdapat daerah deplesi, yaitu area tanpa pembawa muatan bebas. Daerah ini menentukan apakah dioda menghantarkan atau menahan arus tergantung pada arah tegangan yang diberikan.
Cara kerja relay adalah ketika kumparan elektromagnetik yang ada di dalamnya terdapat sebuah feromagnetis yang mendapatkan aliran listrik. Dengan demikian secara otomatis akan muncul sebuah medan magnet yang sifatnya sementara namun selalu ada.
Yang mana magnet tersebut akan menarik tuas armature sehingga dapat merubah posisi dari kontak switch yang awalnya dari NC (Normally Closed) berubah menjadi NO ( Normally Open).
NO (Normally Open) adalah sebuah kondisi yang mana relay belum mendapatkan adanya tekanan dan tuas berada di posisi normal. Sedangkan NC ( Normally Closed) adalah kondisi dimana relay sudah mendapatkan adanya tegangan dengan posisi tuas menarik dan kontak tertutup.
Pompa air adalah alat atau perangkat mekanik yang digunakan untuk memindahkan air dari satu tempat ke tempat lain dengan cara memberikan energi mekanik pada fluida tersebut, sehingga air dapat mengalir dari daerah bertekanan rendah ke daerah bertekanan tinggi. Pompa air bekerja dengan prinsip mengubah energi mekanik menjadi energi tekanan dan kecepatan pada fluida (air) sehingga air dapat mengalir dari tempat yang lebih rendah ke tempat yang lebih tinggi atau dari tekanan rendah ke tekanan tinggi.
Cara Kerja:
- Daya aktif, Saat pompa terhubung ke listrik, motor mulai berputar.
- Putaran impeller, Poros motor memutar impeller untuk menghasilkan gaya sentrifugal.
- Tekanan rendah terbentuk, Gaya sentrifugal menarik air dari sumber melalui pipa hisap.
- Air terdorong keluar, Air bertekanan tinggi keluar lewat pipa keluaran menuju tangki atau saluran.
- Kontrol otomatis, Sensor atau pelampung mengatur pompa agar menyala dan mati sesuai level air.
LED (Light-Emitting Diode) adalah komponen semikonduktor elektronik yang digunakan untuk mengubah energi listrik menjadi energi cahaya melalui fenomena elektroluminesensi, sehingga memungkinkan terjadinya emisi cahaya tanpa menghasilkan panas berlebih seperti lampu pijar tradisional. LED bekerja dengan prinsip memungkinkan arus listrik mengalir dalam satu arah melalui persimpangan P-N, di mana elektron dan lubang rekombinasi dan melepaskan energi dalam bentuk foton (cahaya).
Cara Kerja:
- Daya Aktif: Saat tegangan listrik dengan polaritas yang tepat (arus maju) diberikan ke terminal anoda (+) dan katoda (-) LED.
- Pergerakan Elektron: Arus menyebabkan elektron bergerak dari daerah N (kelebihan elektron) menuju lubang (holes) di daerah P (kekurangan elektron) melintasi sambungan P-N.
- Rekombinasi dan Emisi: Di persimpangan P-N, elektron dan lubang merekomendasikan, melepaskan energi yang sebelumnya mereka miliki.
- Cahaya Terpancar: Energi yang dilepaskan ini berbentuk foton (partikel cahaya) yang kemudian terpancar keluar dari perangkat.
- Kontrol Intensitas: Arus listrik yang mengalir dapat diatur (misalnya menggunakan resistor atau sirkuit penggerak) untuk mengontrol kecerahan dan memastikan dioda beroperasi pada batas aman.
Buzzer Piezoelektrik adalah perangkat elektro-akustik yang digunakan untuk mengubah energi listrik (sinyal AC atau DC yang berdenyut) menjadi energi suara (gelombang mekanik) melalui fenomena piezoelektrik, yang memungkinkan dihasilkannya suara peringatan atau notifikasi yang efisien. Buzzer bekerja dengan prinsip memberikan tegangan listrik pada material keramik piezoelektrik, yang kemudian menyebabkan material tersebut bergetar dan menghasilkan gelombang suara.
Cara Kerja:
- Daya Aktif: Saat tegangan listrik dengan frekuensi yang tepat (sinyal AC atau sinyal DC yang di-switching) diberikan ke terminal positif dan negatif buzzer.
- Perubahan Dimensi: Tegangan listrik menyebabkan material keramik piezoelektrik (yang menempel pada diaphragm logam) mengalami deformasi fisik (kontraksi atau ekspansi) karena efek piezoelektrik terbalik.
- Getaran Mekanik: Perubahan dimensi yang cepat dan bolak-balik (berdasarkan frekuensi sinyal input) menyebabkan seluruh diaphragm logam bergetar dengan frekuensi yang sama.
- Gelombang Suara Terpancar: Getaran mekanik dari diaphragm menekan dan meregangkan udara di sekitarnya, menghasilkan gelombang suara dengan frekuensi yang dapat didengar manusia (audio).
- Kontrol Frekuensi & Nada: Frekuensi dari sinyal listrik yang diberikan dapat diatur (misalnya menggunakan mikrokontroler atau osilator) untuk mengontrol nada dan pitch suara yang dihasilkan, sedangkan tegangan input mempengaruhi volume.
4. Dasar Teori [Kembali]
Secara umum, sensor water level bekerja dengan mendeteksi keberadaan air berdasarkan daya hantar listrik (konduktivitas). Air, terutama air yang mengandung mineral, dapat menghantarkan arus listrik. Ketika air menyentuh elektroda sensor, arus kecil akan mengalir di antara terminal sensor. Arus ini kemudian menghasilkan tegangan keluaran yang dapat diolah untuk menentukan posisi ketinggian air.
Water sensor atau sensor air adalah sensor yang digunakan untuk mendeteksi keberadaan air melalui perubahan nilai konduktivitas (daya hantar listrik) pada permukaannya. Sensor ini bekerja berdasarkan sifat dasar air yang dapat menghantarkan arus listrik, terutama jika mengandung mineral atau garam.Water sensor atau sensor air adalah sensor yang digunakan untuk mendeteksi keberadaan air melalui perubahan nilai konduktivitas (daya hantar listrik) pada permukaannya. Sensor ini bekerja berdasarkan sifat dasar air yang dapat menghantarkan arus listrik, terutama jika mengandung mineral atau garam.
Dalam sistem kontrol tangki air, sensor ini biasanya memiliki beberapa titik deteksi (low, medium, dan high).
- Titik low mendeteksi jika air sudah berada di batas bawah, menandakan pompa harus dinyalakan.
- Titik high mendeteksi jika air sudah mencapai batas atas, menandakan pompa harus dimatikan.
- Tegangan dari masing-masing titik sensor dibandingkan dengan nilai referensi oleh op-amp. Ketika perbandingan menunjukkan bahwa air telah mencapai batas tertentu, op-amp akan mengaktifkan atau menonaktifkan
Spesifikasi Sensor Water Level
- Tegangan kerja 3,3–5 V DC.
- Arus kerja sekitar 10–20 mA.
- Keluaran berupa sinyal analog atau digital.
- Rentang deteksi 0–40 mm atau lebih tergantung tipe.
- Bahan tahan air dan korosi.
- Suhu kerja 0–80°C.
- Akurasi ±2–5 mm.
- Memiliki tiga pin: VCC, GND, dan OUT.
- Dapat digunakan dengan mikrokontroler seperti Arduino atau PLC.
Karakteristik Sensor Water Level
- Mendeteksi dan mengukur ketinggian air dalam wadah atau tangki.
- Bekerja berdasarkan perubahan konduktivitas, tekanan, atau jarak permukaan air.
- Memiliki beberapa jenis seperti pelampung, ultrasonik, kapasitif, dan konduktif.
- Menghasilkan sinyal analog atau digital untuk sistem kontrol.
- Memiliki akurasi dan sensitivitas tinggi terhadap perubahan level air.
- Terbuat dari bahan tahan air dan korosi.
- Digunakan pada sistem otomatis seperti tangki air, inkubator, dan irigasi.
- Emitor (E) memiliki fungsi untuk menghasilkan elektron atau muatan negatif.
- Kolektor (C) berperan sebagai saluran bagi muatan negatif untuk keluar dari dalam transistor.
- Basis (B) berguna untuk mengatur arah gerak muatan negatif yang keluar dari transistor melalui kolektor.
- Transistor NPN adalah transistor bipolar yang menggunakan arus listrik kecil dan tegangan positif pada terminal Basis untuk mengendalikan aliran arus dan tegangan yang lebih besar dari Kolektor ke Emitor.
- Transistor PNP adalah transistor bipolar yang menggunakan arus listrik kecil dan tegangan negatif pada terminal Basis untuk mengendalikan aliran arus dan tegangan yang lebih besar dari Emitor ke Kolektor.
C. OP-AMP
Detektor non-inverting adalah rangkaian penguat operasional (op-amp) yang digunakan untuk mendeteksi dan memperkuat sinyal input tanpa membalik fasa sinyal tersebut. Artinya, polaritas sinyal keluaran tetap sama dengan sinyal masukan, tidak mengalami pembalikan seperti pada konfigurasi inverting.
Dalam konfigurasi ini, sinyal masukan diberikan ke terminal non-inverting (+) op-amp, sedangkan terminal inverting (–) digunakan sebagai umpan balik (feedback). Rangkaian ini mampu memperkuat sinyal kecil menjadi lebih besar dengan gain positif, sehingga sering digunakan pada sensor, detektor sinyal, dan sistem penguat otomatis.
Prinsip kerja detektor non-inverting adalah ketika sinyal input diberikan ke terminal non-inverting (+) pada op-amp, tegangan output akan mengikuti perubahan sinyal input tanpa membalik polaritasnya. Jika tegangan input melebihi tegangan referensi pada terminal inverting (–), maka output akan berubah ke tegangan maksimum positif, dan sebaliknya jika lebih rendah, output menjadi tegangan minimum (negatif). Proses ini memungkinkan detektor mengenali dan memperkuat perubahan sinyal input dengan cepat tanpa pembalikan fasa, sehingga sering digunakan dalam sistem pendeteksi level atau pembanding tegangan.
Detektor inverting adalah rangkaian elektronika yang menggunakan konfigurasi op-amp dengan sinyal input dimasukkan ke terminal inverting (–), sedangkan terminal non-inverting (+) dihubungkan ke tegangan referensi. Rangkaian ini berfungsi untuk mendeteksi perubahan sinyal masukan dengan menghasilkan keluaran yang berlawanan fasa (terbalik polaritasnya) terhadap sinyal input. Artinya, ketika tegangan input meningkat, output justru menurun, dan sebaliknya. Detektor inverting banyak digunakan dalam sistem kontrol dan penguat sinyal untuk menghasilkan respon kebalikan dari sinyal masukan.
Prinsip kerja detektor inverting yaitu ketika sinyal input diberikan pada terminal inverting (–) op-amp, maka output akan berubah dengan polaritas berlawanan terhadap sinyal masukan. Jika tegangan input lebih besar dari tegangan referensi pada terminal non-inverting (+), output akan menjadi negatif (−V_sat), sedangkan jika tegangan input lebih kecil, output berubah menjadi positif (+V_sat). Dengan demikian, detektor inverting bekerja dengan membalik fasa sinyal masukan dan menghasilkan keluaran yang menunjukkan kondisi perbandingan antara tegangan input dan referensi.





Komentar
Posting Komentar